Friday, February 20, 2009

GREAT DAD !


Beberapa waktu yang lalu, ketika perjalanan pulang dari Jakarta menuju Jogja, saya duduk bersampingan dengan dua orang pria dan wanita yang saya kira mereka adalah pasangan suami istri.....Ternyata mereka hanyalah dua orang yang saling kenal karena keadaan, sama-sama dari Jakarta, sama-sama pulang ke Solo....dan ternyata mereka pernah beberapa kali ketemu di pasar induk Jakarta. sempat terbersit dalam pikiran saya hal yang negatif dari mereka berdua...namun hal tersebut sesegera mungkin. Suasana yang panas dan gerah serta karena banykna penumpang..maklum kereta ekonomi..membuat sang bapak sering keluar masuk untuk sekedar mencari udara segar dan merokok....kebiasaaan yang sangat tidak disukai dari sang ibu, ketika dia bereaksi agak keras ketika sang bapak mulai menyalakan ujung rokoknya.
Sekitar 1 jam perjalanan, sang bapak mulai berbicara dengan sang ibu dan tampak sangat akrab. hal itu ditunjukkan ketika mereka saling menggoda dan saling mendorong tubuh dengan kedua bahu mereka. Persis orang yang baru pacaran dan malu-malu. Ketika kereta telah sampai stasiun Cirebon sang ibu mulai kelihatan mengantuk dan mulai tertidur, sementara sang bapak dengan rela menawarkan pangkuannya sebagai bantal..sungguh hal yang romantis. tak lama berselang sang bapak keluar lagi untuk merokok, kalau dapat saya andaikan, bagaikan cerobong asap yang terus menerus mengeluarkan asap. Setelah puas...sang bapak kembali ke tempat duduk...sekarang berseberangan dengan saya. Dia mulai bercerita.
Ini merupakan perjalan dengan kereta pertamanya. biasanya ia melalui malam untuk bertemu keluarga dengan naik bus. Tak tahu mengapa dia melakukannya, mungkin karena ada sang ibu kenalan yang bisa menjadi teman perjalanannya. ia hendak menemui sang anak dirumah....Solo Jebres, stasiun tujuannya..walaupun masih jauh perjalanan yang akan dia tempuh setelah turun dari stasiun tersebut, tetapi dia berkata bahwa sebentar lagi dan dengan jarak cukup dekat dia akan bertemu anak2anaknya di rumah.
Kemudi, setir, menjadi bagian tidak terpisahkan dari dirinya. Dimulai ketika menjadi sopir truk pengantar barang sampai menjadi kernet truk peti kemas di pelabuhan mengiringi tubuhnya yang mulai agak rapuh. Kulitnya tak lagi kencang dengan hiasan legam sengatan matahari di seluruh tubuhnya. Tetapi senyumnya seakan menyirnakan semua anggapan bahwa ia orang tua yang lemah. Segurat kebanggaan terpancar dari matanya ketika dia mulai bercerita tentang anaknya yang bekerja di Jakarta dengan gaji 2,5 juta perbulan. Memang, kebanggaan orang tua terpancar dai apa yang telah diberikan oleh sang anak.
Keluarga menjadi prioritas utama, anak adalah gambaran masa depan. Oleh karena itu ketika sang istri meninggal dia meras bingung, antara bekerja untuk menghidupi anaknya atau membesarkan sang anak. Antara kesejahteraan duniawai dengan masa depan sang anak, harta dan pertumbuhan anak. sempat terbersit untuk membesarkan sang anak, agar dapat menjadi orang yang baik, berguna dan pintar, begitu kata dia. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan dia menikah untuk kedua kalinya, kali ini dia membuat keputusan yang bagi orang pinggiran menjadi hal yang bisa dikatakan tidak wajar. Dia membuat perjanjian pranikah dengan istri keduanya. Alasan yang membuat dia berlau seperti itu adalah perkembangan sang anak, dia tidak ingin sang anak salah sauhan dan menjadi negatif. Ternyata hal yang dia khawatirkan selama ini tidak terjadi, sang ibu tiri sudah menjelma sebagai ibu kandung yang baru bagi anak-anakny, dan dia merasa bahagia.
Mendengar dia bercerita membuat saya tidak ingin menutup mata, walaupun sebenarnya sudah sangat berat. Cerita bapak yang dengan lantang menyebutkan , bahwa keluarga adalah prioritas utama membuat saya sedikit mengambang, mengenang keluarga saya dirumah, betapa bahagianya saya ketika melihat senyum orang tua dan saudara-saudara saya. Begitu pastinya yang dirasakan bapak tersebut. alangkah bahagianya seorang bapak ketika melihat keberhasilan sang anak. Bapak dapat sekligus menjadi ibu, begitu juga sebaliknya...
Perjalanan yang panjang tersebut memberikan banyak pelajaran bagi saya...sebenarnya saya masih ingin meneruskan obrolan tersebut tetapi sirine stasiun lempuyangan membuyarkan keadaan pagi itu. dan saya harus bergegas turun meninggalkan gerbong tua tersebut dan berpamitan kepada orang-orang disamping saya. diiringi senyum ramh dan sapaan yang mengagumkan dari penumpang saya turun menginjakkan kaki di Jogjakarta...t